Wings Group Dukung Pemulihan Pengungsi Gempa Aceh

Pidie Jaya – Dalam rangka peduli pemulihan pengungsi korban gempa Aceh yang terjadi pada 7 Desember lalu, Wings Group menjalinn kerja sama dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kementerian Sosial (Kemsos) menyediakan beberapa posko untuk membantu kebutuhan sandang dan pangan para pengungsi. Posko tersebut tersebar di tiga titik, yaitu Meunasah Juroeng, Mueraksa Barat, dan Kaleng Belek Meureudu. Product Manager SoKlin Detergent, Joanna Elizabeth Samuel, mengatakan, pihaknya telah mendirikan posko tersebut sejak H+2 peristiwa gempa. Dengan memberikan bantuan berupa detergent, makanan cepat saji, minuman teh, jus, kopi, pembalut, popok bayi, sabun kesehatan, shampoo, dan peralatan mandi lainnya. “Sehari setelah peristiwa tersebut, popok bayi merupakan barang yang paling dibutuhkan oleh para pengungsi hingga mencapai 100 dus. Hal itu karena jumlah balita dari para pengungsi terbilang banyak,” ungkap Joanna di posko pengungsi Meunasah Juroeng, Pidie Jaya, Aceh, Senin (19/12). Tidak hanya itu, lanjut Joanna, pihaknya juga menurunkan mobil cuci untuk membantu mencuci pakaian para pengungsi, mengeringkan, dan menyetrika pakaian mereka hingga bersih, wangi dan siap pakai pada 18-20 Desember 2016. Selama dua hari, mobil cuci tersebut telah mencuci baju pengungsi lebih dari 1000 buah pakaian dan melayani 150 kepala keluarga. Mobil cuci tersebut dihadirkan karena pihaknya menganalisa dari beberapa kegiatan tanggap bencana yang telah dilakukan, salah satu hal pokok yang sangat dibutuhkan oleh para pengungsi korban bencana adalah sarana untuk mencuci pakaian karena air bersih sulit didapatkan. “Untuk itu, kami mengirim mobil khusus dimana di mobil itu ada 4 buah mesin cuci dan 4 buah mesin pengering. Ini merupakan ketiga kakinya mobil itu membantu para korban bencana alam. Sebelumnya, mobil ini telah membantu korban pengungsi bencana banjir bandang Garut dan puting beliung Pangandaran. Rencananya, kami akan menambah 3-5 mobil lagi untuk tahun depan,” jelas Joanna. Selain itu, Joanna menambahakan pihaknya juga melakukan pemulihan aspek psikologis pengungsi, khususnya psikis anak-anak. Untuk itu, pihaknya menghadirkan kegiatan mendongeng yang dikhususkan untuk menghibur dan mengurangi trauma anak-anak setelah dilanda bencana. Hal itu karena mereka tidak bisa belajar, tidak bisa main seperti biasa, dan rumah hancur, bahkan ada diantara mereka ditinggalkan orang tua dan saudara yang meninggal akibat gempa. Dongen menjadi pilihan karena dapat mendidik, mudah diterima masyarakat, menghibur, dan juga sebagai alat bemain yang mampu membangun impian. “Kami pun mencoba membantu pemulihan mental dengan mencoba menghibur dan memunculkan keceriaan mereka kembali melaui dongeng,” papar Joanna. Sementara itu, Kepala Desa Meunasah Juroeng Cud Lidan Sulaiman mengaku sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan tersebut. Hal itu karena sejak peristiwa gempa infrastruktur masih belum kembali beroperasi. Salah satunya adalah ketersediaan air bersih, sehingga sangat sulit untuk melakukan kegiatan mencuci, masak, hingga mandi. Ditambah lagi, kondisi tempat tinggal warganya yang sangat dekat dengan laut. Alhasil, hingga saat ini warganya sebanyak 1.300 jiwa masih belum dapat kembali ke rumah masing-masing. “Sebagian besar warga masih trauma dan khawatir terjadi tsunami. Oleh karena itu, kami masih menunggu aba-aba untuk kembali. Disaat itu, bantuan yang datang menjadi sangat membantu kami dalam kegiatan sehari-hari,” tutup dia. Indah Handayani/FER Investor Daily

Sumber: BeritaSatu